Pengunjung menyusuri ruang pamer sembari menikmati puluhan lukisan karya Diak Eko Purwoto. Setiap kanvas menghadirkan kisah dan emosi yang berbeda, menjadikan Pameran Lukisan dan Fotografi "Merekam Realitas, Merawat Budaya" sebagai ruang perjumpaan antara seni, budaya, dan penikmatnya. (dok: arief)
MOJOKERTO -Apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan dan Fotografi bertajuk "Merekam Realitas, Merawat Budaya" terus mengalir. Baru dua hari sejak resmi dibuka Rabu (8/7/2026) kemarin, lima dari 29 lukisan karya Diak Eko Purwoto telah terjual kepada kolektor dan pecinta seni.
Tiga lukisan menemukan pemilik baru pada hari pertama pameran. Hari ini, dua karya kembali terjual. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa pesan visual yang dihadirkan Diak Eko mampu membangun ikatan emosional dengan para penikmat seni.
Bagi Diak Eko, setiap lukisan lahir dari pengalaman batin yang berbeda. Karena itu, setiap karya memiliki jiwa dan cerita yang tidak pernah sama.
"Setiap lukisan memiliki jiwanya masing-masing. Di pameran ini saya menghadirkan 29 kisah visual yang mewakili berbagai emosi. Saya bersyukur, lima di antaranya kini telah menemukan pemilik baru. Karya yang terjual bukan semata menjadi penghias ruang, tetapi juga investasi rasa, pemikiran, dan perjalanan batin yang akan terus hidup bersama pemiliknya," ujar Diak Eko sedikit diplomatis.
Kelima karya yang telah terjual mengangkat tema yang beragam, mulai spiritualitas, sejarah, kemanusiaan, hingga refleksi kehidupan.
Dua di antaranya bertema religi, yakni Perjalanan Suci berukuran 113 x 75 sentimeter dan Panjatkan Doa di Tanah Suci berukuran 95 x 75 sentimeter. Kedua karya berbahan kanvas Marsoto dengan media cat akrilik itu menghadirkan suasana ibadah di Masjidil Haram, menampilkan perjalanan spiritual menuju Ka'bah dan kekhusyukan seorang jamaah yang larut dalam doa.
Karya lain yang juga diminati kolektor adalah Pasar di Gerbang Kerajaan berukuran 85 x 144 sentimeter. Lukisan tersebut merekam denyut kehidupan masyarakat pada masa kerajaan melalui aktivitas perdagangan, kereta sapi, dan interaksi sosial yang berlangsung di depan gerbang megah, menghadirkan narasi sejarah yang hidup dalam balutan realisme.
Sementara itu, Merpati Putih Lambang Kesetiaan & Kedamaian berukuran 160 x 89 sentimeter menawarkan pesan berbeda. Sekelompok burung merpati putih yang bertengger di antara pepohonan menjadi simbol kesetiaan, harapan, dan kedamaian yang dihadirkan melalui komposisi warna lembut dan harmonis.
Satu karya lainnya, Kesendirian di Kesunyian Pantai berukuran 92 x 114 sentimeter, menghadirkan suasana kontemplatif. Sosok nelayan yang berjalan di tepi pantai ditemani perahu, pohon tua, dan langit muram menghadirkan ruang sunyi yang mengajak penikmatnya merenungi makna kesendirian.
Keberhasilan melepas lima karya pada awal penyelenggaraan pameran menunjukkan bahwa apresiasi terhadap seni rupa tidak semata diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari kemampuan karya membangun hubungan emosional dengan orang yang melihatnya.
Salah seorang pengunjung, Rizal, mengaku memahami alasan mengapa beberapa karya tersebut lebih dahulu diminati kolektor.
"Saya merasa setiap lukisan seperti mengajak kita berhenti sejenak. Ada yang membuat tenang, ada yang mengingatkan masa lalu, ada juga yang mengajak merenung. Ketika melihat karya-karya itu, saya tidak hanya menikmati gambar, tetapi juga merasakan cerita yang disampaikan pelukisnya," tuturnya.
Pameran yang digagas Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto ini akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026 di Sunrise Mall Mojokerto. Selain 29 lukisan karya Diak Eko Purwoto, pengunjung juga dapat menikmati 24 karya fotografi Sofanka, partisipasi karya Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya dan Malang, foto kegiatan Pemkot dan Lapas Mojokerto.
Dengan lima karya yang telah berpindah tangan di awal penyelenggaraan, pameran ini memperlihatkan bahwa seni masih memiliki ruang yang kuat di tengah masyarakat. Setiap karya yang menemukan pemilik baru menjadi penanda bahwa pesan, emosi, dan nilai budaya yang dibawa sang perupa berhasil menjalin ikatan dengan penikmatnya.(rif)