...


Bagi Saudah, berjualan makanan tradisional seperti bubur sruntul, lupis di depan SDK Jalan Pemuda Kota Mojokerto bertahan hingga puluhan tahun. Apa resepnya hingga bertahan? Berikut tim Lintasmojo.com yang sempat mewawancarinya.
Saudah yang asli dari Madura ini hampir banyak pelanggannya dari anak-anak sekolah di SDK. Bahkan yang pernah menempuh pendidikan di sd tersebut selalu pesan dagangannya.
Ibu dengan 3 anak ini selalu mempertahankan rasanya, manisnya hingga takarannya. Dan juga mempertahankan bungkus dengan daun pisang.
" Dengan takaran yang pas dan kebersihan, pelanggan saya sangat puas. Banyak alumni yang masih datang walau hanya beli 1-2 bungkus," ujar ibu yang tinggal di Gedongan ini.
Sementara itu, terkait maraknya makanan yang lebih modern, Saudah tak merisaukan hal tersebut. Sebab banyaknya pelanggan yang senang dengan buburnya, dan tak banyak yang pesan.
" Saya berjualan dari pukul 12.00 hingga 15.00 WIB. Dan jika buburnya belum habis saya keliling kampung sekalian pulang. Dan sehari bisa 30-50 bungkus," jelasnya.(rey/lintasmojo)







Bagi Saudah, berjualan makanan tradisional seperti bubur sruntul, lupis di depan SDK Jalan Pemuda Kota Mojokerto bertahan hingga puluhan tahun. Apa resepnya hingga bertahan? Berikut tim Lintasmojo.com yang sempat mewawancarinya.

Label:

Post a Comment

Mari bijak dalam berkomentar, Jangan menyinggung SARA, Jangan melakukan komentar spam atau promosi, trims

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
close